post Category: hangat — timpakul @ 12:19 am — post Comments (0)

perubahan iklim menjadi sebuah trend tersendiri pada berbagai kalangan hingga hari ini. mulai dari kelompok pelajar yang ditugasi oleh gurunya untuk mencari pengetahuan tentang perubahan iklim, hingga sekelompok mahasiswa yang membuat talkshow sederhana tentang perubahan iklim.

katanya, perubahan iklim diakibatkan oleh pemanasan global. saat lapisan ozon semakin menipis, dan meningkatnya gas rumah kaca di atmosfer, maka panas matahari terkurung dalam lapisan permukaan bumi. suhu permukaan bumi pun meningkat. maka kemudian, terjadi pencairan es di kutub dan berbagai puncak dunia, hingga menjadikan permukaan air laut meninggi.

lalu, bagaimana dengan kejadian banjir dan kekeringan pada saat bersamaan di tempat yang tak berjauhan? apakah juga diakibatkan oleh perubahan iklim akibat pemanasan global? ataukah ini hanya menjadi sebuah fenomena yang sepertinya lebih diakibatkan oleh kondisi iklim mikro pada sebuah kawasan?

belum lagi, bahwa kemudian saat ini memang pada kondisi terdekat bumi dengan matahari, dimana hal ini menjadikan terjadina peningkatan suhu matahari yang masuk ke dalam atmosfer bumi. dan kondisi inilah yang kemudian sangat dimanfaatkan untuk menaikan isu tentang kebutuhan akan kawasan yang tetap berpepohonan, dan pertarungan diantara negara industri.

aliran dana untuk mengatasi dan mengurangi dampak perubahan iklim sangat deras mengalir. tak cukup hanya dengan sebuah mekanisme semata. tapi lebih jauh dari itu, masing-masing membangun kriteria dan prasyarat, yang kemudian dikerjakan oleh budak-budak proposal.

perubahan iklim pemanasan global, haruslah dilihat dengan lebih tenang. tanpa juga mengabaikan sebuah kondisi hilangnya lahan kehidupan akibat proyek-proyek utang atas nama pemanasan global. transaksi dilakukan, dengan dilegalisasi oleh aparat pemerintah. harus ada keberanian untuk terus mengatakan, bahwa perubahan iklim pemanasan global, hanyalah sebuah dongeng pengantar tidur di senja hari.

telah dituliskan di: #/timpakul

post Category: hangat — timpakul @ 5:05 pm — post Comments (1)

memilih antara air conditioning (AC) dan kipas angin, sebenarnya ingin lebih memilih kipas angin. walaupun udara ibukota jauh lebih panas dan tak nyaman bila tak ber-AC. namun menjadi sulit ketika sebagian banyak orang yang lebih sepakat dengan AC. dingin, demikian ujar mereka.

menghemat energi, dapat dimulai dengan membuat sebuah perencanaan yang berbeda dalam membuat sebuah bangunan. mulai dari peletakan jendela, bentuk dan arah bukaan, hingga pada aliran sirkulasi udara. peletakkan barang dan ruang, menjadi penting untuk mengefektifkan energi yang digunakan.

ruang kerja, harus memang menjadi nyaman. udara yang dingin dan menyejukkan, serta tak membuat harus meminum cairan yang menolak angin. suasana dan produktifitas kerja juga akan sangat tergantung pada banyaknya oksigen yang masuk pada otak, yang dibawa oleh darah, hasil dari proses pernafasan.

sederhana, langkah untuk melakukan penghematan energi. walau juga, tak melupakan untuk mendesak nasionalisasi aset-aset asing di sektor pertambangan minyak dan gas alam, serta memandirikan kampung-kampung dalam hal pengelolaan energi. perubahan, bukan hal yang tak mungkin terjadi.

tak penting antara AC dan kipas angin !

ditulis juga di: #timpakul

post Category: hangat — timpakul @ 9:49 pm — post Comments (2)

ada sebuah diskriminasi dikala kotakayu sedang dilanda krisis listrik. lampu jalan di tengah kota terang benderang. berbagai lampu di rumah-rumah tepi kota tak menerangi kehidupan. suara mesin listrik berbahan bakar solar ataupun premium bersahutan. temaram lilin menemani obrolan di gelap malam.

tak jelas apa yang diinginkan oleh perusahaan byar-pet milik negara ini. saat dikatakan sedang ada krisis energi listrik, ponton-ponton besar berisikan penuh batubara berlayar di sungai mahakam. ada juga keinginan pelayan publik untuk membangun penghasil listrik berbahan nuklir. minyak bumi dan gas alam menghasilkan rongga-rongga yang berisikan air laut.

krisis listrik ini pula yang melahirkan sebuah kebijakan kontroversial, insentif-disinsentif, yang kemudian entah diganti dengan sistem apa lagi. berharap akan ada sebuah penghematan. sementara, benderang kantor-kantor pelayan publik tak pernah usai. sebuah rumah tempat tinggal sekretaris pelayan publik pun tetap semarak.

pusat perbelanjaan dan pusat hiburan menjadi hiruk pikuk. rambatan kendaraan beroda dua dan empat, berderu diantara bunyi klakson yang tak henti. suara peluit pengatur lalu lintas pun nyaris tak terdengar. semua berlomba, entah apa yang sedan dicari.

krisis listrik, tak usai oleh waktu. re-kalkulasi kebutuhan sumber energi dalam sebuah wilayah tak pernah dihitung. batubara, gas alam dan minyak bumi terus saja dikapalkan entah kemana. kayu-kayu untuk jadi kayu bakar pun semakin sukar didapat. hamparan padi menguning telah menghilang ditelan traktor yang dengan rakusnya membongkar kerak bumi.

bencana ekologi, hidup berdampingan dengan kemiskinan. antrian panjang ibu rumah tangga, berharap memperoleh tetes demi tetes minyak tanah terakhir di pangkalan. tabung gas telah raib pula ditenggelamkan riuhnya pertarungan politik. semua mengeluh. banyak yang bersuara. tapi tak satupun yang mendengar.

lambaian tanjung dan akasia yang mulai rapuh di tepi jalan seolah ingin juga berteriak. suara sang malam terbalut dalam sebuah ruang mimpi. inilah tanah yang terlalu diberkahi. setiap jengkalnya telah lahirkan kerakusan. nafas semakin perlahan. gerakan lambung kian melamban. hanya menantikan waktu memberikan sebuah jawab. dari sebuah tanya yang tak pernah ingin dijawab.

—-
telah juga ditulis di: timpakul

post Category: dingin — bocahalas @ 4:44 pm — post Comments (2)

Pagi tadi sebelum berangkat ke kantor saya sempatkan mengantri BBM di SPBU. Tidak ada yang istimewa sebenarnya dengan mengatri ini, apalagi mengantrinya pada deretan motor bukan mobil, kecuali suatu hal yang selalu mengganggu perasaan dan kenyamanan saya.

Yang pertama adalah ada sebagian pengendara motor yang sedang mengantri untuk diisi tangki BBMnya masih saja menyalakan mesin kendaraannya. Bayangkan saja kita yang berada di belakannya pasti kenyang oleh asap yang dikeluarkan dari knalpot tersebut. Selain membuat polusi udara dan suara yang membuat kesehatan terganggu, menghidupkan mesin saat mengantri juga merupakan pemborosan BBM. Untuk itu alangkah baiknya bila kita mematikan mesin kendaraan pada saat mengantri. Bagi pemilik SPBU selain memasang pemberitahuan mematikan mesin pada saat pengisian BBM, sebaiknya ditambahkan mematikan mesin pada saat mengantri.

Yang kedua adalah, sering kali bila kita mengisi tangki penuh pada saat pengisian sering tumpah karena kelebihan atau untuk mengepaskan harga pada meteran pengisi. Ini juga pemborosan yang sering terjadi, untuk itu sebaiknya sebelum mengisi kita sudah memperkirakan isi tangki agar tidak tumpah biarlah tidak penuh. Bagi petugas pengisi seharusnya diingatkan untuk tidak mengisi terlalu penuh, karena bisanya masih tersisa di ujung selang pengisian begitu diangkat dari mulut tangki sisa BBM tersebut akan tumpah.

Semoga dengan hal kecil ini kita tidak perlu mengimpor BBM terlalu banyak dan membuat bumi semakin panas.

post Category: hangat — bocahalas @ 4:10 pm — post Comments (0)

Bisa jadi penolakan Amerika Serikat (AS) terhadap terhadap protokol Kyoto adalah benar-benar representasi penolakan dari warganya. Hal ini dapat dilihat dari hasil penelitian yang dilakukan oleh dua peneliti dari Universitas Texas A&M Amerika Serikat. Penelitian yang melibatkan 1.093 responden ini mendapati tren apatis, dan hal itu diungkapkan dalam jurnal ilmiah berjudul “Risk Analysis” edisi teranyar, Senin (31/3).(http://kompas.com/)

“Semakin paham responden kami tentang isu perubahan iklim, mereka semakin sadar bahwa mereka sebagai pribadi sangat bertanggungjawab atas fenomena ini, tapi mereka di sisi lain juga semakin tidak mau peduli terhadap pemanasan global,” demikian dikutip dari hasil penelitian berjudul “Kemanjuran Pribadi, Informasi Lingkungan Hidup, dan Perilaku Menyikapi Pemanasan Global dan Perubahan Iklim di Amerika Serikat” itu.

Ternyata para ahli lingkungan dan tim pengkampanyenya berhasil mendistribusikan pengetahuaannya tentang pemanasan global sehingga banyak warga Amerika yang tahu akan hal itu. Namun sayangnya pengetahuan itu lantas tidak membuat mereka sadar untuk berbuat mengurangi emisi yang mereka hasilkan. Kita ketahui bahwa AS adalah salah satu negara emiter terbesar yang menyumbangkan kenaikan suhu di muka bumi ini.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan sikap mereka yang “memaksa” negara-negara pemilik hutan View definition in a new window untuk tetap mempertahankan hutannya, agar karbon yang terlepas ke udara masih ada yang memfilter, sehingga suhu tetap setabil, tapi disisi lain mereka meproduksi karbon besar-besaran.

Sudah saatnya seluruh negara di dunia mengambil tindakan atas ketidak adilan ini. Bila mau berhitung dampak, maka negera-negara miskin dan berkembang yang akan menerima dampak lebih parah ketimbang mereka. …Saatnya bertindak…

< ?php wp_footer(); ?>